logo
Finnesia adalah perusahaan Financial Technologi (Fintech) berbasis Peer to Peer (P2P) Lending.

Tentang Finnesia
Aturan Penggunaan
Kebijakan Privasi
Syarat & Ketentuan
FAQ
Blog Finnesia
Hubungi Kami

Kantor Pusat


Tower Grand Royal KR 27
Kebagusan City
Jakarta

Email: [email protected]
Phone: +62 (21)
 

Tantangan dan Peluang Startup Fintech Lending di Indonesia Tahun 2018

Tantangan dan Peluang Startup Fintech Lending di Indonesia Tahun 2018

Ikhtisar
  1. Kebutuhan pinjaman dalam negeri sebesar Rp1.000 triliun yang belum terlayani lembaga keuangan konvensional dapat menjadi peluang yang bisa ditangkap oleh para pelaku startup fintech tanah air.

 

2.Edukasi masyarakat, kekurangan talenta, data, serta regulasi yang belum baku bakal tetap menjadi tantangan              yang harus dihadapi para pelaku startup fintech pada tahun 2018 mendatang.

 

3.Meski penuh tantangan, industri fintech diperkirakan masih akan terus berkembang dengan kehadiran                        berbagai pemain baru, serta integrasi AI dalam mengoptimalkan operasional perusahaan.

 

Indonesia merupakan negara yang luas, dengan jumlah penduduk melimpah serta potensi bisnis yang luar biasa besar. Salah satu hal yang bisa menggerakkan roda ekonomi di Indonesia adalah penyaluran pinjaman untuk para pebisnis yang tengah membutuhkan modal tambahan.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016 lalu, kebutuhan pembiayaan (pinjaman) nasional mencapai Rp1.600 triliun. Sayangnya, hanya sekitar Rp600 triliun di antaranya yang bisa dilayani oleh bank dan lembaga keuangan lainnya. Ini berarti, masih ada kekurangan sekitar Rp1.000 triliun.

Hal ini berakibat pada kegagalan sebagian pelaku bisnis di tanah air untuk memenuhi potensi terbaik mereka. Menurut lembaga konsultan Oliver Wyman, akses pinjaman untuk para pemilik Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang terbatas di tanah air berakibat pada kerugian Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 14 persen pada tahun 2015.

 

Masalah inilah yang coba diatasi para startup fintech lending di tanah air. Mereka berusaha memberikan akses pinjaman kepada masyarakat yang selama ini belum bisa terlayani oleh bank dan lembaga keuangan konvensional.

Karena memiliki peluang yang begitu besar, tak heran kalau sektor ini pun menjadi kebanjiran pemain. Khusus untuk bisnis peer to peer (P2P) lending saja, OJK telah memberikan status terdaftar kepada 27 startup, dan masih ada puluhan lagi yang masih dalam proses.

Tak hanya itu, para investor juga seperti berlomba-lomba untuk memberikan pendanaan pada startup yang bergerak di bidang ini. Tak heran bila di tahun 2017 ini kita melihat fintech akhirnya menjadi sektor yang paling banyak mendapat pendanaan, selain e-commerce.

Bagaimana sebenarnya peta persaingan startup fintech lending saat ini? Apa saja tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana peluang mereka di tahun depan? Simak ulasan berikut.

Di Indonesia sendiri telah ada beberapa jenis startup yang bergerak di bidang fintech lending, antara lain:

 

Startup P2P lending

Startup jenis ini antara lain terdiri dari Modalku, Investree, Amartha, KoinWorks, hingga Crowdo. Semua startup tersebut hanya bertindak sebagai marketplace yang menghubungkan para peminjam dengan para pemberi pinjaman, serta hanya mengambil komisi dari setiap transaksi yang terjadi di platform masing-masing.

Keberadaan startup P2P lending saat ini telah dilegalkan oleh OJK, lewat POJK No. 77 Tahun 2016. Dalam aturan tersebut, OJK membatasi nilai maksimal pinjaman yang bisa disalurkan oleh startup P2P lending, yaitu sebesar Rp2 miliar.

 

Startup on balance sheet lending

Jenis startup fintech lending ini memberikan pinjaman secara langsung dari kantong mereka sendiri. Untuk mengurangi risiko, mereka biasanya hanya memberikan pinjaman dengan nominal yang tidak terlalu besar, dan jangka waktu pengembalian yang tidak terlalu panjang. Beberapa startup yang masuk kategori ini adalah UangTeman, Julo, TunaiKita, dan Doctor Rupiah.

 

Startup penyedia kredit atas transaksi online

Selain bisa memberikan pinjaman untuk berbagai keperluan, ada juga yang hanya menyediakan pinjaman untuk pembelian barang secara online. Mereka biasanya bekerja sama dengan beberapa e-commerce, dan memungkinkan kamu untuk membeli sebuah barang dan membayarnya di kemudian hari secara mencicil. Kredivo, Akulaku, dan Cicil, adalah beberapa contoh startup yang menjalankan bisnis seperti ini.

 

Startup pemberi pinjaman dengan mekanisme gadai

Ada juga startup yang bisa memberikan pinjaman apabila kamu menggadaikan barang berharga, seperti emas, kendaraan, hingga barang elektronik. Contoh startup yang menjalankan bisnis ini secara online adalah Pinjam.

 

Perkembangan startup fintech lending di Indonesia

Hingga akhir tahun 2017, dua startup P2P lending besar di tanah air yaitu Modalku dan Investree mengaku telah memberikan lebih dari seribu pinjaman kepada masyarakat di tanah air. Secara nominal, Investree telah menyalurkan sekitar Rp380 miliar, sedangkan Modalku mengaku telah menyalurkan sekitar Rp450 miliar.

Di tahun 2018, kami menargetkan bisa memfasilitasi pinjaman sekitar Rp1 triliun.

Adrian Gunadi, CEO dan Co-founder Investree

Hal serupa diungkapkan oleh Reynold Wijaya, CEO dan Co-founder dari Modalku, yang menyatakan bahwa mereka juga menargetkan untuk bisa melipatgandakan jumlah pinjaman yang mereka salurkan. Namun sejauh ini ia mengaku masih memformulasikan angka pastinya.

Secara total dari semua pemain P2P lending di tanah air, OJK menyatakan bahwa para startup tersebut telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp2,26 triliun hingga bulan November 2017 kemarin. Angka tersebut diprediksi bisa menyentuh angka Rp3 triliun pada akhir tahun ini.

Lalu bagaimana dengan para startup on balance sheet lending?

Hingga November 2017 lalu, UangTeman mengaku telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp114 miliar kepada lebih dari 10.000 pengguna. Di tahun 2018 mendatang, mereka menargetkan bisa menyalurkan pinjaman hingga 10 kali lipat.

Sedangkan startup yang menghadirkan layanan pembelian barang dengan metode cicilan seperti Kredivo mengaku bahwa nilai transaksi mereka setiap bulannya telah mencapai angka jutaan dolar (lebih dari Rp13 miliar). Gadget, perangkat elektronik, fesyen, hingga hobi, merupakan kategori produk yang paling diminati di platform tersebut.

Di tahun depan, kami punya target jumlah transaksi empat hingga lima kali lipat lebih besar dari yang kami salurkan tahun ini.

Akshay Garg, CEO dan Co-founder FinAccel (induk perusahan Kredivo)

 

4 tantangan terbesar startup fintech lending tanah air

 

Edukasi masyarakat

Karena bisnis fintech lending ini masih terhitung baru, para pemain yang ada pun mengaku masih menemui tantangan dalam memperkenalkan layanan mereka. Oleh karena itu, mereka pun berusaha untuk terus menjelaskan manfaat layanan mereka kepada masyarakat baik secara online ataupun offline. Hal tersebut mereka lakukan baik kepada orang yang ingin meminjam uang, atau bagi masyarakat yang ingin meminjamkan dana masing-masing.

Selain itu, untuk memperbanyak jumlah orang yang bisa mereka jangkau, beberapa startup fintech lending pun berusaha menghadirkan layanan-layanan baru. Hal ini dilakukan Investree dengan menghadirkan layanan P2P lending berbasis syariat dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) secara online. Kredivo pun berniat untuk memungkinkan penggunaan Kredivo di ranah offline pada tahun 2018 mendatang.

Sedangkan UangTeman, berusaha memperluas jangkauan mereka di tahun depan dengan cara membuka cabang di kota-kota baru.

 

Kurangnya data untuk menilai kelayakan calon peminjam

Sebelum memberikan pinjaman kepada pengguna, sebuah startup fintech lending tentu harus memeriksa apakah calon pengguna tersebut nantinya bisa mengembalikan uang tersebut atau tidak. Penilaian tersebut biasa dikenal dengan istilah credit scoring.

Menurut Kredivo, layanan credit scoring ataupun data identitas yang dimiliki oleh pihak ketiga merupakan sesuatu yang langka di Indonesia.

Hal ini membuat kami harus membangun layanan tersebut sendiri. Kami itu seperti dua perusahaan yang menjadi satu, yaitu perusahaan credit scoring sekaligus penyalur transaksi yang harus bekerja secara real time

Akshay Garg, CEO dan co-founder dari FinAccel

 

Kurangnya talenta

Hal lain yang masih minim di Indonesia adalah sumber daya manusia yang mempunyai keahlian untuk mendukung perkembangan layanan fintech lending. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa startup pun melakukan banyak rekrutmen sepanjang tahun 2017 yang lalu, termasuk mendatangkan talenta dari luar Indonesia.

 

Regulasi

Saat ini OJK memang telah mengeluarkan aturan resmi untuk bisnis P2P lending. Namun mereka belum mengeluarkan aturan untuk bisnis fintech lending lain, seperti on balance sheet lending. Hal inilah yang disoroti oleh startup seperti UangTeman, yang berharap adanya regulasi untuk startup di luar P2P lending.

Sedangkan terkait regulasi, Investree mengaku telah cukup banyak dukungan dari pihak regulator seperti OJK. Namun mereka berharap agar ke depannya ada aturan satu pintu (one door policy) untuk memudahkan para pemain fintech lending untuk melakukan koordinasi dengan regulator dari sektor-sektor lain.

 

Akan seperti apa perkembangan startup fintech lending di tahun 2018 nanti?

 

Pinjaman online akan semakin diminati

Menurut CEO Investree Adrian Gunadi, edukasi yang dilakukan oleh para pemain fintech lending dan regulator akan berdampak pada peningkatan minat masyarakat terhadap layanan pinjaman secara online di tahun depan. Hal ini pun diamini oleh CEO FinAccel Akshay Garg.

“Penetrasi kartu kredit yang rendah masih akan menjadi sebuah peluang besar bagi Indonesia pada tahun 2018. Oleh karena itu, penyedia pinjaman online pun akan bergerak ke arah mobile dan memungkinkan akses yang lebih mudah dengan berbagai otomatisasi,” ujar Akshay.

 

Startup di bidang fintech lending akan meningkat

Baik Investree ataupun Modalku sepakat bahwa akan ada lebih banyak pemain yang masuk ke dalam industri fintech lending di tanah air. CEO UangTeman menyatakan hal serupa dalam tulisannya, sekaligus menyinggung semakin banyak investor Cina yang beralih ke Indonesia karena aturan yang kian mengetat di negara tirai bambu tersebut.

“Potensi pasar Indonesia masih sangat luas. Akan lebih banyak peminjam dari luar Pulau Jawa, dan kami pun berencana untuk memperluas jangkauan layanan Modalku,” ujar CEO Modalku Reynold Wijaya.

 

Penerapan AI di bidang fintech lending

Elquino Simanjutak, Chief Credit Officer dari sebuah startup P2P lending Akseleran, menyatakan bahwa startup fintech lending juga akan dipengaruhi oleh perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI bisa digunakan oleh para startup untuk melakukan penilaian kelayakan seorang calon peminjam (credit scoring).

“Data finansial yang digabungkan dengan data di media sosial bisa menghasilkan prediksi perilaku calon peminjam terhadap pinjaman yang sedang diajukan,” jelas Elquino.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan/Techinasia)

Dicky Anugerah
No Comments

Post a Comment

Comment
Name
Email
Website